Academic Social Bookmarking untuk Dosen dan Mahasiswa, Mau(nya)?

Social bookmarking atau “bergotong royong menandai halaman web yang keren”, sudah jadi tren. Situs del.icio.us konon termasuk pelopornya. Situs web 2.0 yang kemudian diakuisisi oleh Yahoo itu hadir ketika istilah TAG masih relatif asing. Bekas dan jejaknya masih terlihat. Masih ada penjelasan tentang TAG di sisi kanan halaman depan situsnya. Meski kini, yang populer ialah Digg.com Atau kalau di Indonesia, mungkin situs Kilasan dan LintasBerita.

Lalu bagaimana detail hubungannya dengan dunia akademik pembelajaran di perguruan tinggi?

Mungkin “kisah” PageRank dapat menjadi sandaran. Ya, itu PageRank-nya Google yang dikenal oleh pegiat dunia maya sebagai alat ukur “kesuksesan” suatu web. Melihat sejarahnya, Larry Page sang pencetus algoritma itu, menyerap inspirasi dari dunia penulisan ilmiah.

Praktis dan singkatnya sebagai berikut: sebuah judul paper yang banyak-dan-sering dikutip oleh paper-paper lain, pastilah bernilai “PENTING”. Begitu pulalah yang dikenal kini dalam ranah SEO sebagai backlink. Suatu halaman web yang memperoleh banyak link dari halaman web lain, akan ditempatkan pada posisi penting: di “nomor urut pertama” hasil pencarian.

Bookmark!

Bookmark!

Lalu bagaimana yang terjadi dengan situs social bookmarking? Kalau boleh dimisalkan, perannya seolah menapaktilasi inspirasi Larry Page. Alurnya kira-kira: Google terinspirasi dari dunia nyata penulisan ilmiah, lalu mengandalkan parameter link untuk meranking halaman web. Di “sisi lain”, bookmarking berkembang menjadi aktivitas banyak orang yang dapat saling diketahui. “Mirip-mirip” dengan banyak paper di jurnal ilmiah yang “menandai” (baca: mengutip) paper tertentu lainnya.

Dalam setiap detiknya, situs social bookmarking memungkinkan pengguna untuk mengirimkan sebuah artikel mungil. Terdiri dari sebuah judul dan paragraf penjelas seadanya. Judul itu biasanya me-link “menaut” langsung ke “halaman web keren” yang dimaksud. Dan paragraf penjelas tadi, itulah baris-baris penganjur/promosi/alasan mengapa link tadi dianggap “keren”.

Begitu artikel mungil itu disubmit dan terkirim, pengguna lain pun akan melihatnya. Bagi yang “setuju”, tentu saja segera ikut “menandai” halaman web keren tersebut. Mem-vote-nya atau me-rate-nya! Begitulah terus hingga tak jarang satu halaman web yang baru dibuat atau tadinya “terpencil dari pergaulan”, tiba-tiba bisa populer. Bukan saja bagi pembuat halaman web itu, tapi juga netter lain dengan minat serupa akan merasa sangat terbantu. Baik yang geek, pakar, praktisi, pemula, newbie, dkk semuanya bisa “bertemu”. Egaliter, setara, dalam semangat berbagi bersama.

Maka, sebagai bagian dari gelombang Web 2.0, yang bertumpu pada sharing komunitas seperti itu, wajarlah bila Google pun tak memandang sebelah mata. Hingga kerapkali (kalau bukan selalunya) Google memprioritaskan halaman web yang link-nya termuat di situs social bookmarking. Sampai di sini, alur yang tadi disebut pun berubah, seolah menjadi siklus. Siklus inspirasi-ide-apresiasi dan seterusnya.

(Indonesian) Academic Social Bookmarking

Bookmark!

Indonesia, Tandai!

Dalam dunia akademik sendiri, tentunya memiliki ruang komunikasi konvensional seperti biasa. Baik itu dalam skala kelas, departemen, fakultas, universitas, hingg antar universitas dan antar bangsa. Tanpa mengenyampingkan itu semua, social bookmarking layak dilirik sebagai ruang komunikasi baru bagi civitas akademika.

Mungkin terdengar seperti mundur ke belakang, karena terkesan membentuk sekat baru yang terpisah dari globalitas yang ada. Mungkin juga tercurigai sebagai bentuk eksklusivitas, di mana civitas akademika seperti menaiki lagi menara gading yang jumawa.

Tapi sudut pandang positif masih bisa dipasang. Terlepas dari merata tidaknya penguasaan bahasa Inggris, aspek lokalitas bisa dijadikan motivasi bersama. Toh, sudah sejak lama masyarakat menikmati segala hal yang “di-Indonesia-kan”. Mulai dari peristilahan hingga situs-situs yang bertebaran. Dan ya, bukankah kita memang orang Indonesia!

Lalu, alih-alih eksklusivitas (yang biasanya berstigma negatif), inisiatif ini bisa dipandang sebagai mengelola “niche”/ceruk yang ada. Di mana dosen dan mahasiswa seluruh nusantara bisa saling berinteraksi, dengan “bahasa rekomendasi”. Peneliti di satu kampus dapat mengetahui apa yang jadi bahan baca favorit dari peneliti di kampus lain untuk topik seminat. Mahasiswa jadi tahu paper mana yang sedang dibaca sejumlah dosennya dan dosen lain di kampus lain. Bisa jadi, ruang seperti ini dapat makin memicu masing-masing untuk belajar mandiri.

Inisiasi dan Eksekusi

The World is Pressed

Internet, The World is Pressed

Apapun, tentu dibutuhkan lebih dari semangat meluap-luap agar dapat terealisasi dan berhasil. Begitu juga dengan usul sederhana ini. Bisa jadi banyak hal terlewat, terlupa, atau terluput. Atau malah menjadi sia-sia.

Tapi kalaupun ada celah nyata, tentu perlu lebih dari sekedar inisiatif pribadi. Perlu ada institusi/komunitas (independen?) yang semaksimal mungkin tak memberatkan pemerintah, tapi cukup punya kapasitas untuk menggerakkan. Tool ‘alat bantu’ open-source seperti PliggCMS, mungkin dapat dijadikan “batu loncatan” awal dalam proses eksekusi.

“You are what you read!” kata sebuah ungkapan. Terbayang bagaimana jadinya, kalau ternyata bacaan mahasiswa juga (bisa) “sama dengan” bacaan rektornya!


  1. Wah! Ide yang menarik. Dg social bookmarking ini kita benar2 bisa “mengapungkan” sebuah artikel yang bagus, namun belum popular.

  2. Sadat ar Rayyan

    PliggCMS? kayak apa tuh pak? Moodle?

  3. @Zulfi, Iya, dan halaman web itu bisa format apa saja.. PDF, Online slide, atau format2 dokumen lainnya… Dan, dari “lapis motivasi paling alamiah” pun, bisa ikut memicu “karyatulis2 baru”…

  4. @Saddat ar Rayyan, Tidak, bukan spt Moodle, krn peruntukannya berbeda.
    .
    Contohnya spt yg digunakan Lintasberita.com atau Digg.com. Makanya jg dikenal istilah Digg-effect.
    .
    Contoh untuk keperluan akademik, spt CiteULike.org

  5. beda ya dunia nyata dengan maya.
    kalo di internet yang penting kapabilitas search engine nya…

  6. @benykla, imho, justru dg Social Bookmarking itulah, proses2 “pengapungan” artikel/materi-belajar yg bagus (istilah Mas Zulfi), menjadi lbh manusiawi/human-powered….
    .
    Jd enggak salah kalau Google pun “hormat”….

  7. social bookmarking ada banyak macem nya. dg drupal anda bisa membuat digg clone. drigg-code.org.
    Terus ada juga delicious clone : scuttle.org
    nah sekarang tergantung kebutuhan anda seperti apa.
    kalo basis wordpress juga ada namanya : pressmark theme
    nah banyak khan…🙂
    tapi harap di perhatikan dari sisi security nya
    karena banyak spam tools buat script yg saya sebutkan telah beredar luas

    salam,
    seorangs




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: