Apakah e-learning itu sesuatu yang kelewat mewah? Atau terlampau susah? Yang jelas, kalau tak hati-hati, bisa juga terjebak salah kaprah.

Who wants to be an e-learner?

Who wants to be an e-learner?

Padahal kalau nyentil soal global warming, e-learning dapat menyumbang budaya paperless sebagai “efek samping”. Belum lagi urusan universitas dan ranking, Webometrics ternyata “makin menjadi” alat ukur penting.

Trio atau “tiga simpul” dimaksud ialah: “Cyber” mahasiswa, “Ruang” Perkuliahan, dan Perpustakaan “Digital”. Sekedar kilasan dari sisi pengguna, setidaknya sesuai pengalaman*. Mungkin terkesan sembarangan, karenanya, semua masukan dipersilakan. Berikut detail pembahasan:

1. “Cyber” mahasiswa

Penting sebagai “saung bersama” untuk akses internet murah. Awalnya, mahasiswa memperoleh 1 username 1 password untuk akses internet. Ada jatah puluhan jam akses internet. Gratis. Tersedia voucher internet 1500 per jam untuk dibeli, kalau jatah tadi habis. Tergolong murah dan ya, laris manis. Voucher berbentuk kartu pun dilubangi satu persatu, di bagian tertentu. Menyesuaikan dengan jumlah pemakaian berdasar waktu.

Ngenet Murah, Ngenet Rame

Ngenet Murah, Ngenet Rame

Belakangan, cyber mahasiswa berkembang dan jumlahnya jadi bertambah. Sistem pengelolaan layanan pun berubah. Untuk jatah satu semester, mahasiswa cukup membayar 50.000 rupiah. Bekalnya masih sama, 1 username dan 1 password. Tapi ada juga yang lolos, “pake punya temen” katanya.

Ruangan ber-AC. Koneksinya terhitung oke. Kecuali kalau lagi betul-betul rame, agak lambat memang. Ehm, tapi ramenya nyaris tiap hari, dari pagi sampai sore! Malamnya? Lumayan, rame juga!

Paling mutakhir, tersedia juga “titik-titik panas” alias hotspot di area kampus. Cukup membawa laptop (berapa persen dari jumlah mahasiswa?) ber-WiFi, ngenet pun jadi.

2. “Ruang” Perkuliahan

Beberapa perlengkapan standar ialah: OHP, mic pengeras suara (kalau kelas besar), dan LCD Projector. Khusus yang terakhir, mahasiswa jadi lebih leluasa menikmati sajian kuliah. Begitu juga dosen dalam menyampaikan materi berkemasan multimedia. Meski tak semua dosen, tentunya. Sebab lebih banyak yang memakai Powerpoint saja. Kecuali saat sekilas demo program komputer. Yang terakhir pun jarang, sebab sudah masuk porsi praktikum.

Download materi kuliah atau sekedar course notes di website kampus. Seperti biasa, dalam bentuk PDF. Belum semua dosen, hanya beberapa mata kuliah saja. Kadang juga, bagi-bagi file itu via milist kelas.

Pengiriman tugas format digital, awalnya via disket. Kadang juga tugas anak sekelas digabung rame-rame, dalam satu CD. Belakangan via e-mail. Tentu, dalam bentuk attachment. Hal sederhana yang mungkin luput: besar maksimal file. Juga koneksi jaringan. Padahal sudah deadline, dan tugas tak kunjung terkirim. Panik? Lumayan!

3. Perpustakaan “Digital”

Sudah terkomputerisasi. Katalog tersedia pada unit-unit komputer dalam ruangan. Memberitahu letak rak buku, status “lagi-dipinjam-atau-tidak”, dan berapa eksemplar yang tersedia. Ada barcode scanner di meja layanan peminjaman dan pengembalian.

E-Learning; Membukukan Komputer, Mengkomputerkan Buku?

E-Learning; Membukukan Komputer, Mengkomputerkan Buku?

Belakangan, jumlah komputer untuk akses katalog ditambah. Sistem database dan antarmukanya berubah. Jadi lebih mutakhir dan ramah. Barcode scanner pun dipisah: satu khusus untuk peminjaman, satunya lagi untuk pengembalian buku. Nge-perpus pun jadi makin nyaman. Ngenet pun bisa, dengan laptop/notebook malah colenak, tinggal colok kabel listrik, enak.

Lebih elok lagi, perkembangan di perpustakaan pusat ikut merambat. Ikut menjalar ke perpustakaan tingkat fakultas dan departemen. Tersedia pula fasilitas layanan download jurnal ilmiah internasional berbayar, secara gratis. Berarti pihak kampus yang sudah berlangganan, untuk mahasiswanya.

Menunjang realisasi perpustakaan digital, skripsi pun wajib diserahkan dalam bentuk CD. Termasuk dalam format PDF. Abstraksinya diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Nah, satu sisanya, plusnya adalah dalam hal administrasi akademik.

SMS Nilai. Seperti biasa lazimnya layanan SMS. 4 angka. Kode-kode tertentu. Dan nilai hasil ujian langsung bisa diketahui.
KRS Online. Sangat memudahkan bagi mereka yang pulang kampung cukup jauh. Tanpa perlu terburu-buru, pengisian KRS bisa lewat papan kunci dan tetikus. Dan monitor, unit system. Dan akses internet.
Yang dua tadi, jujur saja, belum pernah coba. Karena belum ada tuntutan untuk itu.

Catatan Kecil

Menggenggam Dunia?

E-Learning Menggenggam Dunia?

E-learning memang layak dipandang sebagai sebuah konsep besar. Kompleksitas dan keutuhan implementasinya pastilah tak serta-merta tercakup dari “tiga simpul” di atas. Nah, alih-alih rumus, berikut inipun sekedar catatan kecil-kecilan:

Inisiatif institusi memegang peran kunci. Rasanya, kampus manapun di Indonesia terus berusaha menemukan jalur e-learning terbaiknya. Maksudnya, tak ada yang tak bervisi e-learning ke depannya. Ini sudah sebuah kabar gembira. Sebab akan banyak sumberdaya yang dihemat. Sementara kualitas pendidikan diprediksi akan makin meningkat. Meski bisa jadi multi-kendala banyak menjerat. Tapi sebagai konsepsi ilmiah, e-learning agaknya punya cara sendiri untuk terimplementasi secara tepat. Atau ekstrimnya, teradaptasi/teradapsi sesuai sumberdaya kampus “setempat”.

Dukungan dosen. Asumsinya ialah: waktu online dan tingkat “melek internet” dosen lebih tinggi daripada mahasiswa. Dalam situasi tadi, dosen juga selayaknya proaktif dalam mengisi kanal jaringan dengan aktivitas pembelajaran. Atau paling tidak, menjadi “pemasar terdepan” dalam mengondisikan suasana e-learning. Baik dalam perkuliahan, maupun penugasan.

Internet murah dan memadai. Mungkin secara kuantitatif, ada hitungan nisbah ideal antara jumlah mahasiswa dan jumlah komputer-terhubung-ke-internet yang tersedia. Tapi setidaknya, ada evaluasi kontinu ihwal kepuasan civitas akademika dalam berinternet ria. Lebih luas lagi, internet murah juga tanggung jawab penyedia jasa layanan. Revolusi, kalau internet betul-betul turun harga.

Sosialisasi fasilitas.
Tak melulu soal e-learning, rasanya masih cukup banyak mahasiswa yang belum tersosialisasi fasilitas kampus secara utuh. Setidaknya, ketersediaan informasi lengkap menjadi “wajib ada” di website kampus. Bahkan selain untuk kepentingan internal, info lengkap dan up-to-date itupun pastinya menjadi “magnet kuat” untuk pihak luar kampus.

Prioritas dan Dampak?

Kampus E-Learning?

Kampus E-Learning?

Dari ketiga “trio” dan catatan kecil di atas, pengembangan perpustakaan dan perpustakaan digital (di setiap tingkatan dalam institusi PT) rasanya jauh lebih berdampak. Urgen sekaligus penting. Setidaknya sebagai gerbong inisiatif dan “penyedia” fasilitas sumber-sumber pembelajaran. Dan syukurnya hal ini terlihat sedang terus berjalan*.

Sebab bisa jadi, “perkuliahan online” (kecuali “sekedar” upload-download course notes) masih terlalu prematur untuk digembar-gemborkan. Intensitas online mahasiswa dan dosen pun mungkin masih menyimpan banyak pertanyaan. Bukan apa-apa, toh koneksi internet mahasiswa kebanyakan juga masih ngos-ngosan. Atau belum lagi internet, akses komputer pun bisa jadi jauh dari merata. Kecuali kalau memang sejak awal sang kampus dan se-isinya didesain agar e-learning banget. Yang terakhir tadi, pastinya butuh banyak budget! Dan kalau dipaksa begitu, dua pertanyaan di awal tulisan akan terjawab penuh pesimis dan muka mengkeret: duh, e-learning itu mewah dan susah yah!

Berikutnya ialah kesiapan mahasiswa dalam melengkapi diri dengan perangkat terkait. Beasiswa kerja dapat menjadi solusi. Alih-alih dalam bentuk uang tunai, mahasiswa justru difasilitasi untuk memperoleh PC atau laptop, misalnya. Lalu, lewat program yang terkelola, mahasiswa diarahkan untuk “bekerja” sesuai bidangnya. Syukur-syukur kalau ini juga dapat memberi sumbangsih bagi penguatan ekonomi industri kreatif.

Terakhir, layaklah untuk terus optimis, sharing ‘saling berbagi’ antar kampus sudah menjadi hal biasa. Mungkin sedang ada “rencana bersama” untuk me-mirror-kan mater kuliah dari luar. Atau saling memberi saran ihwal best-practices e-learning di kampus masing-masing. Atau hal-hal lainnya yang terproyeksi akan lebih mudah dan murah bila ditanggung bersama. Sebab, meskipun zaman kian canggih, pepatah silam tetap berlaku bukan: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Begitu jugakah dengan paradigma elok bernama e-learning? Ah, tapi tentu, masih banyak rumus lain.

*)di salah satu kampus di kota hujan.

Entri yang mungkin terkait (beserta “rumus-rumus” pemandu):


  1. menurutku sekarang ini e-learning masih buat komplemen ajah ya pak?

  2. “trio plus” elearning kampus memang sudah menjadi wajib bagi kampus-kampus yang ingin tetap eksis. Tapi lebih penting lagi, budaya penggunaannya juga harus dipupuk dari awal…

    Ingin tau Layanan Gratis di Internet sebagai Media Belajar Mengajar ?

  3. @benykla, ya, kan kondisional, sesuai “sumber daya lokal”… asal jgn lsg “terjerembab” gara2 persepsi “mahal”… cmiiw
    .
    @achmatim, lebih menukik lagi, adakah “satu bab saja” di buku pelajaran smp/sma yg memprovokasi “Who wants to be an e-learner?” …..? Mungkin ada ya….

  4. ade

    Contoh elearning untuk PT:
    http://elearning.gunadarma.ac.id/
    Untuk bahan ajar:
    http://ocw.gunadarma.ac.id/
    Untuk paper:
    http://repository.gunadarma.ac.id/
    Contoh Virtual Class:
    http://v-class.gunadarma.ac.id

    Semoga bermanfaat




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: